Gue
Ngrokok Karena Gue Ingin
Perempuan merokok tampaknya menjadi
fenomena yang tak sulit dijumpai. Sering kita temui beberapa perempuan
di kantin-kantin atau tempat nongkrong kampus sedang merokok.
Termasuk Age yang meminta namanya disamarkan, mengakui bahwa rokok
selain enak juga menimbulkan kesan santai. Alasan merokok buat mahasiswi
Fisipol angkatan 2000 ini cenderung karena sugesti. Banyak suasana
yang mendukungnya untuk merokok. "Kalau lagi hujan atau hawa
dingin kan kayaknya enak minum minuman hangat sambil merokok,"
katanya sambil menyulut sebatang rokok putih.
Awalnya Age merokok karena ikut-ikutan teman-temannya dan juga karena
alasan kepingin lain dari yang lain. Age memulai aktivitas merokoknya
sejak duduk dibangku SMA. Saat itupun teman-teman nongkrongnya tidak
ada yang tak merokok, selain penasaran dan takut dibilang nggak
gaul akhirnya Age pun tergoda untuk mencobanya lintingan tembakau
itu.
Age memulai merokok secara sembunyi-sembunyi karena pacarnya saat
itu sangat tidak suka perempuan yang merokok selain itu memang takut
ketahuan orang tuanya dan anggapan miring masyarakat tentang dirinya.
Jadi Age melakukannya ketika nongkrong sepulang sekolah saja.
Saat kelas 3 SMA Age sempat menghentikan aktivita merokoknya karena
ia mulai mengenakan jilbab. Age awalnya memang berniat untuk menghentikan
aktivitas merokoknya. Seperti persepsi orang-orang disekelilingnya,
saat itu ia menganggap perempuan merokok--apalagi berjilbab--tidak
enak dilihat. "Gue benernya masih pengen ngerokok, bukan buat
gaya, tapi kok kayaknya ada yang lain ketika gue nggak ngerokok,
tapi gue juga masih gimana gituu...kalo keinget-inget gue pake jilbab,"
katanya sambil menerawang dengan rokoknya yang sebentar lagi habis.
Rokok akhirnya mencandunya.
Selepas SMA, Age yang anak Jakarta memilih untuk kuliah di Jogja.
Otomatis Age jadi lebih bebas karena jauh dari orang tua yang nun
jauh di Jakarta. Di sinilah aktivitas merokok Age dimulai lagi.
Perang batin itu kini sudah tidak ada lagi. Age merasa lebih jujur
dengan dirinya sendiri. "Awalnya emang piyee..ngono, tapi lama-lama
jadi biasa, ya..gue mencoba luweh aja, lagian lingkungan tempat
gue maen kayaknya biasa-biasa aja tuh.. " katanya dengan logat
sok jawa. Namun, Age sampai saat ini enggan kalau disuruh merokok
di kawasan kampusnya. Ketika ditanya alasannya, "gue ngerokok
liat suasana juga, kampus kayaknya bukan tempat yang cocok buat
ngokar (bahasa trendy dari merokok-red)," jawab Age yang mengaku
tidak terlalu suka nongkrong di kampus.
Ketika ditanya tentang bahaya merokok untuk kesehatan, ia mengaku
ngeri. "Iya sih, sempet kepikiran juga, tapi ya itu tadi gue
luweh aja. Gue nggak pernah takut kalau nanti nggak punya anak.
Gue merasa itu kan urusan Tuhan. Banyak perokok berat yang nyatanya
justru punya anak, ada juga perempuan-perempuan normal yang bersih
dari nikotin eh..malah nggak punya anak. Tapi gue sebagai perempuan
normal tetep pengen lah punya anak. Dan geu tau someday gue emang
harus berenti ngokar. Tapi nggak tau kapan..hehehe.." katanya
sambil ketawa lepas.
Age mengakui bahwa ia tidak punya anggaran khusus untuk merokok.
"Kalo ada duit gue mesti beli, tapi alhamdulillah sampe saat
ini gue nggak pernah terbentur ama duit. Selalu ada. Tapi ya..kalo
bokek banget paling gue minta ama temen" katanya. Age juga
cerita bahwa ia pernah mencoba beberapa macam rokok dari mulai A
Mild King Size, Bentoel, Gudang Garam, Dji Sam Soe sampai rokok
import Capri yang terkenal sebagai rokok gay. Namun diantara beberapa
macam rokok yang perah dicobanya dia cocok dengan Marlboro Lights.
Dan ia bukan tergolong perokok berat, sebungkus Marlboro isi 20
bisa habis dalam 3-4 hari.
Age sadar betul bahwa pandangan orang akan miring terhadapnya juga
akan jilbabnya. "Beberapa teman emang ada yang keberatan ketika
saya ngerokok tapi saya kembali lagi sama pilihan saya. Saya hanya
nggak pengen hidup saya jadi sangat terbatas dengan jilbab yang
saya kenakan bukan berarti saya nggak menghargai keberadaan perempuan-perempuan
lain yang berjilbab dan memberikan kesan buruk akan jilbab yang
saya pakai. Ketika berhadapan dengan mereka atau siapapun yang keberatan
saya merokok, saya nggak akan merokok" tegasnya. Dia juga tidak
suka merokok didalam bis atau kendaraan umum lainnya. "Itu
jelas mengganggu kenyamanan orang lain.
***
Merokok
biasanya diidentikkan dengan aktivitas populer maskulin. Banyak
pria yang beranggapan merokok dapat membangun kesan jantan dan gagah.
Berbeda halnya dengan perempuan. Merokok bukan dianggap bukan sesuatu
yang lazim dilakukan oleh perempuan, karenanya perempuan yang merokok
dianggap sebagai ciri khas yang akan membedakan mereka dari perempuan-perempuan
yang tidak merokok.
Nuraini Juliastuti dalam Newsletter KUNCI Edisi Remaja, Gaya dan
Selera bahwa permasalahan perempuan merokok hanya pada nilai yang
selama ini terlanjur terbangun pada beberapa kelompok masyarakat:
perempuan perokok kerap dihubungakan dengan stereotip buruk dan
mendiskriditkan, bukan perempuan baik-baik, urakan, dsb. Age memandang
masalah ini lebih netral, "siapapun berhak punya persepsi dalam
hal ini, gue tentu aja nggak bisa bilang setuju nggak setuju begitu
aja gue nggak mau orang berpikiran gue nganggep teman-teman yang
kontra akan realitas ini norak, kolot, nggak liberal, dlsb.so, biar
aja mereka dengan persepsi mereka masing-masing." kata Age
sebelum pamit untuk sholat Ashar.
Nissa
|