Edisi 44-05/02/2002

Polemik Keberadaan Mahasiswa di MWA

Belum tuntas polemik seputar PP 153 tahun 2000, kini mahasiswa sudah dihadapkan pada permasalahan keberadaan mahasiswa di Majelis Wali Amanat (MWA).

Di dalam pasal 9 PP 153 tahun 2000 disebutkan bahwa salah satu unsur MWA adalah masyarakat universitas. Namun belum jelas benar siapa saja yang dimaksud dengan masyarakat universitas ini. Drs. Hendrie Adji Kusworo, M.Sc., dari Forum Peduli UGM (FPU), menilai bahwa permasalahan ini jadi rumit mengingat Anggaran Rumah Tangga (ART) yang seharusnya mengatur itu semua hingga hari ini masih dalam pembahasan. “Jangankan ngomong ART, PP 153 sebagai AD saja tampaknya masih banyak cacatnya,” ungkapnya.
Sementara Senat Akademik Sementara (SAS) seperti hanya mengejar deadline untuk segera menyusun perangkat universitas. Pasalnya Februari ini MWA harus sudah siap lantik. Sementara Maret depan,rektor harus segera dipilih.
Adji menambahkan bahwa setiap elemen universitas semestinya terwakili di dalam MWA yang merupakan lembaga MPR-nya universitas. Karena setiap elemen memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Dengan kata lain, MWA merupakan representasi semua elemen yang memiliki kepentingan akan kehidupan universitas.

Hanya dua saja
Menyinggung permasalahan jumlah anggota MWA, mantan aktivis Sekber Kesenian di tahun 1985 ini berpandangan bahwa sebenarnya 25 orang juga tidak cukup representatif. Hal senada diungkapkan juga oleh Rahmantoha, Ketua Umum Keluarga Mahasiswa UGM (KM).
Rahmantoha menyoroti jatah mahasiswa di kursi MWA yang hanya dua sangatlah jauh dari memadai. "Dua, lima belas, bahkan seratus belum tentu merepresentasikan semua kepentingan mahasiswa dari berbagai unsur," ujarnya. Rahmantoha mengusulkan agar dibentuk suatu forum khusus antar elemen mahasiswa yang menggodok lebih dalam soal wakil mahasiswa di MWA dan mekanisme pemilihannya. Adji menuturkan bahwa representasi adalah satu step tersendiri yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Ada tiga pertimbangan yang menurut Rahmantoha menjadi alasan keberadaan mahasiswa di MWA. Yang pertama adalah akses informasi dan keterlibatan dalam merumuskan kebijakan universitas. Berikutnya adalah independency dan kesejajaran mahasiswa dengan birokrat kampus.
Selain itu, Adjie menambahkan bahwa untuk pemilihan rektor dan penentuan kebijakan lain mahasiswa selayaknya juga memiliki hak yang sama dengan anggota MWA lain. Artinya, jangan sampai mahasiswa hanya memiliki hak dengar. “Sebagai elemen terbesar di kampus, rasanya wajar kalau mahasiswa juga punya hak suara,” serunya.

Wakil sementara
Dalam draft anggota MWA saat ini telah ada dua wakil mahasiswa sementara yang diisi oleh Ketua Umum dan Sekjen KM. M Abul H, anggota Badan Pekerja Referendum menyatakan bahwa langkah menempatkan dua wakil sementara ini sebagai langkah strategis. Kondisi riilnya mengharuskan demikian. “Wakil mahasiswa tersebut bisa berfungsi sebagai spy,” tambahnya.
Kekhawatiran yang berkembang adalah apabila permasalahan representasi dan mekanisme pemilihan wakil mahasiswa masih terus berlanjut tanpa ada kata sepakat, maka status 'sementara' tersebut bisa segera bergeser menjadi wakil tetap di MWA. Padahal, agenda di depan mata seperti pembentukan MWA dan suksesi rektor, waktunya sudah tidak bisa ditawar lagi.
Bak suatu pohon, permasalahan ada pada akar namun kita tetap mengiginkan pohon tersebut tegak berdiri. PP 153 adalah akarnya. Pembenahan harus dimulai dari sana. Namun kendala waktu yang terus mengejar menjadi permasalahan tersendiri di sisi satunya.
Menyikapi hal ini, Adji - bersama FPU - tengah merumuskan dua tahapan target. Jangka panjangnya adalah menciptakan demokratisasi kampus secara menyeluruh, termasuk di dalamnya meninjau ulang PP 153 tahun 2000. Sementara untuk jangka pendek diusahakan untuk memodifikasi hal-hal yang sudah terlanjur jalan agar mekanisme yang ada punya derajat lebih demokratis. "Ini sebagai upaya nututi (menyusul-red) kereta yang sudah keburu berangkat," ujarnya bersemangat.

Zaki

Powered by SKM UGM BULAKSUMUR, Bulaksumur B21 Jogjakarta 55281 fax (0274) 566711
email: bulaksumur@plasa.com
2 0 0 1