Edisi 44-05/02/2002

Judul : Larung
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan : Pertama, November 2001
Halaman : vii+260


“Dengan agak tersipu Laila tiba-tiba menyadari bahwa sesungguhnya matanya menikmati pria-pria yang terasa jantan, menyusuri jalur keringat pada badan mereka, sementara hidungnya mencari-cari jejak aroma air tubuh itu, di luar akal sadarnya.." (hlm. 114)

Warna sensualitas yang kental dalam cuplikan di atas adalah cerminan wajah Larung secara keseluruhan. Mungkin inilah upaya Ayu Utami untuk menarik pembaca. Interpretasi pembaca bisa beragam. Dan itu sah-sah saja. Bisa jadi ini juga upaya penulis dalam menyampaikan pikirannya bahwa sensualitas tak selalu mensyaratkan seksualitas (hlm. 157).
Sebagai kelanjutan Saman, novel ini memunculkan kembali tokoh-tokoh Saman dengan karakternya masing-masing. Juga dengan konfliknya satu sama lain serta impian hidupnya masing-masing.
Diawali dengan kisah unik seorang pemuda bernama Larung yang tengah berusaha membunuh neneknya. Sang nenek dinilainya lebih baik untuk mati saja. Perjalanan Larung dalam menuntaskan misinya ini jadi muatan utama bab awal. Diselingi juga dengan flashback yang mengambil setting era 65-66.
Pada bagian selanjutnya kita akan dibawa kembali ke dunia "petualangan" empat sahabat yakni Cok, Laila, Yasmin dan Shakuntala. Dan tentu saja tak tertinggal : Sihar dan Saman. Idealisme, perjuangan hak asasi manusia dan romantisme khas Ayu Utami menjadi menu utama bagian ini. Pada awalnya agak sulit memang, khususnya bagi yang belum mengikuti kisah Saman. Namun lambat laun asal mau mengikuti apa yang dituturkan, kesulitan itu akan teratasi sendiri.
Pada bagian akhir, tokoh Larung kembali hadir bersama tokoh-tokoh lain, utamanya Saman. Kisahnya menyangkut upaya pelarian aktivis dengan beragam pernak-pernik yang mewarnainya. Ending yang dingin, tragis dan tak terduga (unpredictable) justru menjadi klimaks dari keseluruhan cerita.
Selain sebagai tokoh baru, sebenarnya Larung juga membawa karakter dan kisah baru yang cukup memberi warna tersendiri. Namun hadirnya kembali "warga" Saman dengan porsi yang cukup besar membuat novel ini benar-benar jilid dua Saman.
Terlepas dari itu semua, kelancaran Ayu Utami dalam menuturkan kisah menjadi kekuatan tersendiri pada Larung. Detail pada tokoh maupun kisahnya cukup kuat dibangun. Konsepsi tokoh utama pada narasi Indonesia selama ini pun digugurkannya. Dalam Larung, kita tak tahu pasti - atau tak yakin - siapa yang sebenarnya menjadi tokoh utama. Dalam setiap bab kita bisa menjumpai seorang tokoh utama dengan kisahnya sendiri. Dengan halus, terkadang juga tiba-tiba, kisah tersebut mengantarkan kita pada tokoh lain yang akan menjadi "tokoh utama" kisah berikutnya.
Zaki

Powered by SKM UGM BULAKSUMUR, Bulaksumur B21 Jogjakarta 55281 fax (0274) 566711
email: bulaksumur@plasa.com
2 0 0 1