log.gif (13574 bytes)
  Indeks  | Daftar Berita | Sapa Kami Pengelola

12/12/00
Libur UGM Simpang Siur

Momentum akhir tahun ini terasa istimewa karena Lebaran, Natal, dan Tahun baru 2001 jatuh pada waktu yang berdekatan. Momen ini tentu ditunggu para mahasiswa UGM perantauan untuk pulang kampung bertemu dengan sanak saudara. Tetapi harapan itu mungkin sulit terjadi tahun ini. Sebab libur tahun ini sangat berdekatan dengan waktu ujian. 

Sesuai kalender akademik universitas, UGM libur mulai 25 November 2000-7 Januari 2001. Ini libur minggu tenang menjelang ujian. Sementara Ujian Akhir Semester (UAS) dan pengumumuan hasil ujian tanggal 8-27 Januari 2001.
Jadwal yang ditetapkan universitas ini mengundang protes mahasiswa. 

Di Fakultas MIPA, mepetnya jadwal liburan mendorong Senat Mahasiswa di sana membuat lembar usulan yang ditempel di papan pengumuman. Lembar usulan ini mendapat tanggapan para mahasiswa. Banyak usul agar libur dimajukan mulai 18 Desember 2000, serta ujian diundur menjadi tanggal 15 Januari 2001.

"Alasan mereka, butuh waktu untuk mudik, terutama yang dari luar Pulau Jawa. Selain itu, mahasiswa juga harus belajar mempersiapkan ujian akhir," ujar Maryati, mahasiswa Kimia '98, yang juga Ketua Senat Mahasiswa MIPA. "Beberapa mahasiswa dari luar Jawa umumnya telah mengantongi tiket sebelum 23 Desember," tambah Maryati. 

Dosen Ikut Protes
Mepetnya libur minggu tenang dengan hari raya juga mengundang protes dosen. Beberapa dosen memilih untuk mengakhiri kuliahnya jauh sebelum 23 Desember 2000. 

Amalinda Savirani, S.I.P., dosen muda Fisipol, menuding jadwal libur yang digariskan universitas tidak realistis. "Libur yang terlalu dekat dengan hari raya tidak manusiawi dan hanya membuat kelas menjadi tidak efektif karena kosong," ujar Linda. Selain itu, menurut Linda, perkuliahan sampai 23-Desember hanya mendorong mahasiswa menjadi “maling”. “Karena mahasiswa terpaksa membolos atau nitip absen ke teman," ujar mantan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fisipol ini. 

Dra. Soelistyati Ismail Gani, dosen Hubungan Internasional, malah mengabulkan permintaan mahasiswa Fisipol untuk mengakhiri perkuliahan sebelum 23-Desember. "Saya bisa mengerti permintaan mahasiswa untuk mengakhiri kuliah lebih cepat. Asal mereka mau menanggung resiko belajar sendiri materi yang belum sempat dibahas," ujarnya.

Sementara dekan FMIPA, Prof. Drs. H. Subanar, Ph.D., meski menolak mengajukan libur lebih dulu, tetap memberikan keleluasan untuk mengakhiri perkuliahan sebelum 23-Desember-2000. “Tergantung kesepakatan dosen dan mahasiswa,” katanya.

Rektorat Beri Keleluasan
Sementara itu Pembantu Rektor (PR) I, Prof. dr. Mochamad Anwar, M.Med.,Sc.,Sp.OG ketika ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (9/12) menjelaskan, "Liburan sesuai dengan kalender akademik ini telah kita susun dengan baik, dan tentunya kita anggap paling baik untuk memenuhi seluruh kebutuhan civitas akademika".

Diakui Anwar memang sulit untuk memenuhi seluruh kebutuhan civitas akademika. Akhir semester yang berbarengan dengan 2 hari raya, serta keharusan untuk memotong liburan disebutnya sebagai realitas yang sulit dihindari. “Ini akan tejadi hingga tiga tahun ke depan,” katanya.

Mengingat masalah liburan ini menjadi begitu pelik, rektorat memilih memberi keleluasaan pada masing-masing fakultas. "Ada permintaan untuk mengundurkan ujian dari beberapa fakultas. Nggak masalah, yang penting semester berakhir sesuai jadwal," ujar Anwar. "Kalau ada fakultas yang ingin mengundurkan jadwal ujian, asal berani selesai dalam 2 minggu, ya silakan," tambah Anwar.

Menanggapi soal dosen yang tetap harus mengadakan kuliah karena banyak bolong di tengah semester, Pembantu rektor bidang akademik ini mengusulkan Buku Bahan Ajar sebagai solusinya. "Untuk mengantisipasi keadaan seperti sekarang. Paling tidak dengan Buku Bahan Ajar ini, mahasiswa bisa tetap mempersiapkan ujiannya dengan baik walau terpaksa tidak ikut kuliah," tambahnya.
(Ganesha)