Tahun Baru, Rektor Baru

 

Minggu lalu terjadi dua momen yang saling beriringan. Pada Jum'at (15/4), umat Islam menyambut datangnya Tahun Baru 1423 H. Satu hari berlanjut, kampus tercinta UGM mengadakan pemilihan rektor untuk masa bakti lima tahun kedepan. Yang terpilih adalah Prof DR Sofian Effendi. Tetapi, apa hubungannya peringatan Tahun Baru Hijriah dengan pemilihan Rektor UGM?


Tahun Hijriah menurut riwayat mengambil momentum peristiwa berpindah (hijrah)nya kaum muslimin beserta Nabi Muhammad SAW ke Yatsrib. Yang setelah kedatangan Nabi, tepatnya Jum'at 12 Rabi'ul Awal, tahun kesatu Hijriah berganti namanya menjadi Madinatun Nabi. Selanjutnya dikenal dengan nama Madinah (Syaikh Shafiyyur Rahman, Sirah Nabawiyah, 2000).
Kalender Hijriah dihitung berdasarkan rotasi bulan terhadap bumi. Lain dengan kalender Masehi yang berdasarkanrevolusiBumiatas Matahari. Minggu lalu terjadi dua momen yang saling beriringan. Pada Jum'at (15/4), umat Islam menyambut datangnya Tahun Baru 1423 H. Satu hari berlanjut, kampus tercinta UGM mengadakan pemilihan rektor untuk masa bakti lima tahun kedepan. Yang terpilih adalah Prof DR Sofian Effendi. Tetapi, apa hubungannya peringatan Tahun Baru Hijriah dengan pemilihan Rektor UGM?
Tahun Hijriah menurut riwayat mengambil momentum peristiwa berpindah (hijrah)nya kaum muslimin beserta Nabi Muhammad SAW ke Yatsrib. Yang setelah kedatangan Nabi, tepatnya Jum'at 12 Rabi'ul Awal, tahun kesatu Hijriah berganti namanya menjadi Madinatun Nabi. Selanjutnya dikenal dengan nama Madinah (Syaikh Shafiyyur Rahman, Sirah Nabawiyah, 2000).
Kalender Hijriah dihitung berdasarkan rotasi bulan terhadap bumi. Lain dengan kalender Masehi yang berdasarkan revolusi Bumi atas Matahari.bermasyarakatnya hampir mirip dengan struktur yang dikembangkan Nabi Muhammad SAW. Sebagai contoh, pimpinan dipegang oleh Nabi Muhammad SAW sendiri. Dibantu oleh tenaga ahli dalam bidang-bidang tertentu (Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dll).
Di UGMpun, rektor dibantu para wakilnya. Karena masyarakat Madinah pada waktu itu terdiri dari berbagai suku, maka di butuhkan masing-masing seorang kepala suku yang memimpin hanya pada sukunya saja. Di UGM ada pula yang dinamakan dekan.
Kemudian bila di UGM, struktur masyarakatnya berbasis intelektual dengan latar belakang dan kepentingan beragam, maka masyarakat pasca Hijrah terstruktur lebih kompleks lagi. Di sana ada kelompok religi yang beragam. Islam, Nasrani, dan Yahudi.
***

Lewat peristiwa Hijrah di awal, mari kita coba terapkan pada terpilihnya rektor baru UGM. Terpilihnya rektor baru membangkitkan harapan akan adanya perbaikan-perbaikan di UGM. Bagi mahasiswa, mungkin harapannya perkuliahan bisa makin baik dan berkualitas, SPP tidak naik. Bagi rakyat, bangsa dan negara harapannya adalah sumbangsih UGM dalam mencetak intelektual bermoral dan beradab. Hal ini sebagaimana harapan kaum muslimin Mekkah saat akan berhijrah ke Madinah. Di depan

mata terbayang perbaikan atas penderitaan akibat perlakuan kaum kafir Quraisy.
Kemudian yang utama, bercermin pada makna Hijrah, terpilihnya rektor baru UGM adalah tonggak ditegakkannya keadilan. Ini demi terwujudnya masyarakat egaliter di UGM. Ke depan nantinya tidak ada istilah hanya orang "berduit" yang mampu kuliah di UGM. Rektor harus memperlakukan adil setiap mahasiswa dari manapun mereka berasal, apapun statusnya. Beri kesempatan yang sama mereka berkembang. Rektor juga harus bersikap adil pada tiap jurusan dan fakultas.
Tentunya masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan rektor terpilih. Ini akan menjadi amanat yang berat buat beliau. Karena struktur masyarakat UGM berbasis intelektual dengan latar belakang dan kepentingan bermacam-macam. Ini harus diakomodasi dengan baik, sebagaimana Rasulullah terapkan pada masyarakat pasca Hijrah di Madinah.


Aude Hijaz
Mahasiswa Filsafat '00, aktivis Forum Lingkar Pena

Powered by SKM UGM BULAKSUMUR, Bulaksumur B21 Jogjakarta 55281 fax (0274) 566711
email: bulaksumur@plasa.com
2 0 0 1