Banyak Mahasiswa Mengulang,
FE Terapkan Kebijakan Baru

 

Fakultas Ekonomi (FE) menetapkan kebijakan baru tentang pengulangan mata kuliah. Nilai B ditetapkan sebagai nilai maksimum untuk mata kuliah yang diulang.
Dr Basu Swastha Dharmesta MBA, Wakil Dekan Bidang Akademik FE, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil rapat Fakultas. Dengan pemberlakuan kebijakan ini, diharapkan mahasiswa yang mengambil mata kuliah akan lebih keras meraih nilai maksimal. “Tentunya juga termotivasi untuk lebih cepat lulus,” ujarnya.
Menurut Pak Basu, sapaan akrab dosen ini, kebijakan itu mengacu pada pemberlakuan sistem KRS tahun 1975. Model ini merupakan peraturan lama. Hanya saja, kini banyak pihak melupakannya. “Kami hanya mencoba untuk menerapkannya kembali. Bahkan, semua negara yang universitasnya menggunakan sistem kredit pasti melakukan kebijakan yang sama,” katanya.

Ditolak Mahasiswa
Sebagian besar mahasiswa menolak kebijakan tersebut. Tampak dari aspirasi mahasiswa yang diwadahi Aliansi Mahasiswa Peduli Prestasi (AMPAS). Dekanat sendiri menampung setiap aspirasi mahasiswa yang diwakili oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEM) untuk dibawa ke rapat fakultas.
Dalam kasus ini, DEM-FE memperjuangkan keputusan mendadak itu. Alasannya, mahasiswa belum siap. Untuk itu, mereka meminta diadakannya sosialisasi terlebih dahulu.
Menurut M. Said Fathurrohman, Ketua Umum DEM-FE, ada banyak alasan dari kebijakan itu

Diantaranya karena FE termasuk salah satu pilot project dari penerapan Quality Insurance Project (Proyek Pengukuran Kemampuan). Disamping tentunya keinginan fakultas untuk menjaga kualitas lulusannya. Serta alasan mengenai standar-standar penilaian tersendiri dari dosen sehubungan dengan otonomi kampus.
Said menambahkan bahwa kebijakan tersebut juga cenderung memberi disintensif terhadap mahasiswa yang sering mengulang. ”Padahal kapabilitas seseorang tidak bisa diukur dengan IP,” katanya.
Banyak mahasiswa yang terkena imbas kebijakan ini. Lesta Karolina salah satunya. Mahasiswi Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan ini berharap agar kebijakan tersebut diberlakukan bagi angkatan baru saja. Menurutnya, angkatan '99 ke atas biasanya mengulang mata kuliah di akhir semester. Setelah seluruh mata kuliahnya habis. “Akibatnya, kelas mata kuliah ngulang cuma diisi tujuh sampai delapan orang saja,” serunya sengit. Pernyataan Lesta diamini Agung. Ia menganggap kebijakan tersebut dapat merusak strategi kuliah yang sudah direncanakan sejak awal.

IP Bukan Jaminan
Menanggapi protes keras mahasiswa, Pak Basu mengaku keheranan. “Menurut data itu jelas, ada mahasiswa yang walau sudah mengulang sebanyak empat kali, hasilnya tetap saja E. Bahkan ada yang minta perpanjangan waktu skripsi satu setengah tahun lagi,” lanjutnya.
Pak Basu juga menambahkan bahwa IP tinggi belum menjamin seseorang cepat memperoleh pekerjaan. Ia mencontohkan mahasiswa bimbingannya yang cum laude, tapi harus masih menunggu satu tahun untuk

mendapat pekerjaan. Sebaliknya, ada mahasiswa yang IP-nya mepet, setelah diinterview malah langsung diterima di perusahaan minyak beken di Indonesia. "Akan tetapi perlu berbagai training intensif untuk mengimbangi IP pas-pasan," tuturnya.


Ardhitya, Adriani, Lastri

Powered by SKM UGM BULAKSUMUR, Bulaksumur B21 Jogjakarta 55281 fax (0274) 566711
email: bulaksumur@plasa.com
2 0 0 1