“I'm gonna be The Next Beatles”

Ngumpulin poster, ikutan fans Club, nonton konser kemudian beli pernak-pernik atau istilah kerennya merchandise adalah hal-hal biasa yang dilakukan orang-orang yang mengakui dirinya fans seorang artis. Tapi apa benar hanya itu saja?

"…Yesterday all my troubles seem so far away…," mungkin lirik itu akan sering kita jumpai ketika kita sedang berkunjung ke kamar Wahyu. Ia adalah seorang mahasiswa UGM yang mengaku dirinya gandrung dengan The Beatles, band fenomenal asal Britania Raya.
Wahyu mengenal The Beatles semenjak ia masih di bangku Taman Kanak-Kanak. Usia yang cukup dini untuk mengenal musik. Oom-nyalah yang berjasa memperkenalkan band asal Liverpool tersebut. Sampai Kemudian ia masuk ke bangku sekolah dan tenggelam diantara buku-buku. The Beatles-pun dilupakannya sejenak.
Suatu ketika saat Wahyu SMP, teman-teman sepermainannya memperdengarkan lagi lagu-lagu The Beatles. Memori di otaknya serasa di-rewind saat ketika dia pertama kali mendengar lagu The Beatles. Kali ini, ia jatuh cinta. Sebuah cinta yang abadi.

Ideologi Beatles
Sebagai seorang penggemar, mungkin dia yang paling tidak neko-neko. Koleksinya tidak seheboh fans-fans pada umumnya. Koleksi yang dimilikinya hingga sekarang adalah 15 kaset The Beatles tempo dulu, ketika dia masih SMP, dan buku-buku yang berkaitan dengan sejarah The Beatles. “Yang saya sukai dari The Beatles adalah lagu-lagunya dan juga liriknya, bukan penampilan atau gaya dandanannya” ujarnya ketika ditanya mengapa dia tidak mengumpulkan barang-barang seperti yang dilakukan fans-fans lazimnya.
Wahyu mengaku lebih tertarik dengan apa yang ada di dalam isi perut The Beat-les. Buatnya The Beatles layaknya ideologi. Untuk itulah dia juga mengkoleksi buku sejarah dan autobigrafinya The Beatles. Dia mencoba mencari tahu sebenarnya apa yang bisa membuat The Beatles begitu besar hingga sekarang.
Ketika ditanya tentang musik the Beatles, dia menjawab dengan antusias, “kord-nya the Beatles itu ajaib, sangat jarang orang yang bisa menciptakan musik sedemikian hebat pada masa itu bahkan bisa bertahan sampai sekarang adalah sesuatu yang luar biasa.” Ia juga menyatakan bahwa kekuatan The Beatles terletak pada lirik-liriknya. Di dalam liriknya terkandung makna yang dalam dan berbobot. Perpaduan antara gaya bahasa sederhana dengan kedalaman makna membuat lirik The Beatles indah. Hal ini yang memungkinkan musik The Beatless diterima di semua kalangan di dunia.

Suka George
Ketika diminta memilih siapa anggota The Beatles yang paling disukai, ia menekankan bahwa The Beatles adalah suatu kesatuan apik. Bukan sosok Paul Mc Cartney, John Lennon, Ringo Star, maupun George Harrison. “Tapi kalau dipaksa milih satu diantara empat tokoh, ya saya akan memilih George Harrison,” timpalnya. Menurutnya, sosok George Harrison menarik. Karena pembawaan tokoh itu cenderung diam, kalem dan tidak macem-macem. “Padahal dia lho yang ngajarin John Lennon akord gitar,” serunya bersemangat.

Tetap PeDe
Di antara teman-temannya sendiri, dia bersikap biasa-biasa saja. Dia tidak perlu mengembar-gemborkan bahwa dia pecinta The Beatles. Atau kemudian cari konco untuk membuat genk pecinta The Beatles. Sebaliknya untuk menanggapi teman-temannya yang anti The Beatles, dengan enteng dia menjawab, “Saya yakin gimanapun juga mereka pasti ngakuin kalo The Beatles adalah band besar, dan itu sudah cukup.”
Menyadari dirinya pecinta berat The Beatles, Wahyu pun tidak tinggal diam. Bersama dengan teman-teman SMA-nya, ia membuat band yang spesialis memainkan

agu-lagu The Beatles. Band yang bernama “Yang Beatless” ini masih tetap eksis hingga sekarang . “Kami bisa main hampir semua lagu The Beatles dari sekitar dua ratusan lebih total lagu mereka,” ujarnya bangga. Walaupun band-nya sekarang dalam masa vakum, tapi mereka masih tetap memegang konsistensi dalam memainkan musik. Buktinya mereka hanya mau manggung jika ditawari untuk memainkan musik The Beatles.
Disamping itu Wahyu nampaknya tidak bisa melepaskan begitu saja citranya sebagai pecinta The beatless. Ia sering menjadi nara sumber dalam sebuah acara radio di kota Solo. Di kota tempat tinggalnya itu, radio PTPN sering memintanya sebagai nara sumber dalam sebuah acara yang bertajuk “Beatles box”.
Setiap fans pasti punya mimpi dan harapan mengenai artis pujaannya. Wahyu sendiri punya satu obsesi besar. Yaitu dia ingin bisa pergi ke Liverpool, Inggris. Disana, ia ingin mengunjungi museum The Beatles. Juga rumah empat anggota legendaries The Beatles. Dimana satu rumah dengan rumah lainnnya berdekatan.
Nampaknya Wahyu tidak hanya puas bermimpi dan berandai-andai di tempat tidur membayangkan artis pujaanya. Dia lebih memilih untuk bangkit dan melakukan apa yang dilakukan idolanya. Bahwa melakukan apa yang dilakukan idolanya adalah salah satu bentuk penghargaan tertinggi dari seorang fans kepada pujaannya. Sama seperti yang dilakukan Wahyu. “I'm gonna be The Next Beatless” serunya optimis.

Ika

Powered by SKM UGM BULAKSUMUR, Bulaksumur B21 Jogjakarta 55281 fax (0274) 566711
email: bulaksumur@plasa.com
2 0 0 1