log.gif (13574 bytes)
  Indeks  | Daftar Berita | Sapa Kami Pengelola
22/08/00
Tambang Emas UGM

Di sebelah selatan Gelanggang Mahasiswa, ada empat buah spanduk yang berjajar dari atas ke bawah. Semuanya mengiklankan program diploma dari berbagai fakultas yang sekarang sedang marak di UGM.Terhitung sejak tahun 1998, ada 4 program studi diploma baru yang dibuka di UGM. Jadi total, ada 15 program studi diploma III sampai pertengahan tahun 2000 ini. Tampaknya, membuka program studi diploma ini sedang menjadi trend di berbagai fakultas.   

Maraknya program D-III ini memunculkan kontroversi. Di satu sisi, kehadiran program diploma diharapkan dapat menjadi alternatif bagi para lulusan SMU/K mengingat semakin tingginya biaya kuliah di PTS. Di sisi lain, sebagai sebuah universitas, apalagi yang sedang menuju taraf research university, program studi yang berorientasi praktis tentu menjadi kontraproduktif.
Lepas dari kontroversi tersebut, sebenarnya sejauh mana kesiapan fakultas yang membuka program studi baru? Apakah persiapan sudah dilakukan dengan cukup matang sehingga sarana dan pra sarana yang dibutuhkan oleh mahasiswa pun tersedia lengkap?

Kebutuhan Pasar

Para pengelola program D-III rata-rata menyatakan bahwa alasan mendirikan program ini selalu terkait dengan kebutuhan pasar akan tenaga ahli madya. Apalagi jumlah sarjana semakin bertambah, tentu kebutuhan akan tenaga ahli madya semakin meningkat pula. "Idealnya satu orang sarjana didampingi oleh dua orang ahli madya," ungkap GP Daliyo, Ketua Program Diploma Komputer dan Sistem Informasi (KOMSI) Fakultas MIPA.
Hal yang sama juga mendasari berdirinya Program Diploma Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi (PJ-SIG), Fakultas Geografi. Menurut Drs Rojo D, M.Sc, Wakil ketua Program PJ-SIG ini, ide mendirikan program diploma berawal dari desakan beberapa instansi seperti Bakosurtanal dan Departemen Transmigrasi. "Karena kedua instansi tersebut merasa tenaga ahli madya di kedua bidang masih sangat kurang, padahal kebutuhannya besar," jelas Rojo.

Terkesan Asal Buat

Menjamurnya program diploma III di UGM, memang memunculkan kesan bahwa membuka program diploma itu mudah dan asal buat. Namun para pengelolanya dengan tegas membantah anggapan tersebut. Sebab, persiapan yang dilakukan cukup panjang. Apalagi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) juga memberikan syarat dan kualifikasi tertentu, terutama yang berkaitan dengan kesiapan infrastruktur serta tenaga pengajar.
Prosesnya, meski tidak terlalu berbelit-belit, membutuhkan waktu yang cukup panjang. Ada beberapa tahap yang harus dilalui. Menurut Daliyo, para pengelola harus menyusun dulu proposal tentang rencana program studi tersebut, lalu mempresentasikannya ke rapat uji di universitas. "Setelah lolos di tingkat universitas, barulah maju ke tingkat Dirjen Dikti," jelasnya. Setelah proposal lolos diuji oleh Dirjen Dikti, akan ada surat resmi yang berisi pengakuan resmi dari Dirjen Dikti atas program studi yang akan dibuka. "Tapi yang lebih penting sebenarnya pengakuan dari pasar," kata Pak Rojo. "Hidup matinya program ini tergantung pada pasar. Kalau tidak bisa memberikan sesuatu yang berguna mengapa harus jalan terus?”

Sarana Belum Sesuai

Berbeda dengan para pengelolanya, mahasiswa diploma banyak merasa biaya yang mereka keluarkan belum sepadan dengan fasilitas yang mereka dapatkan.
Yang terakhir adalah aksi di D-III Komunikasi awal November 1999. Mahasiswa melakukan aksi dengan menempelkan poster-poster di sekitar kampus FISIPOL Bulaksumur. Mereka menuntut agar pihak pengelola D-III Komunikasi meningkatkan fasilitas laboratorium sesuai yang dijanjikan di brosur.
Mahasiswa D-III Ekonomi juga merasakan kegelisahan yang sama, khususnya mengenai gedung. Selama ini, mahasiswa D-III ekonomi memang 'menumpang' di GKU Ekonomi."Padahal kami sudah membayar uang gedung. Nyatanya sudah hampir lima tahun, kami masih belum punya gedung," kata Irna, mahasiswa D-III jurusan Pemasaran. "Pihak pengelola memang berjanji mengusahakan gedung. Entah kapan realisasinya."
(Jundan, Alia-bulaksumur).