log.gif (13574 bytes)
  Indeks  | Daftar Berita | Sapa Kami Pengelola
14/08/00
"UKM Politik" Itu,
Bernama Keluarga Mahasiswa

Hari Sabtu (12/8) kemarin, diselenggarakan Sidang Istimewa Konggres Mahasiswa UGM yang dilangsungkan di Ruang 1 Fakultas Geografi. Sidang yang dimaksudkan untuk membahas format baru Organisasi Keluarga Mahasiswa UGM ini, dihadiri hanya 12 peserta.
Sidang dimulai setelah tertunda untuk memenuhi persyaratan quorum, meskipun hanya dengan 7 orang peserta. Padahal Sidang Istimewa Konggres Mahasiswa - semacam MPRnya mahasiswa UGM dan membawahi lembaga Eksekutif Transisi (Ekti) dan Legeslatif Transisi (Lekti) - ini, mengundang seluruh anggota Legeslatif Transisi, Presiden Mahasiswa UGM, Ketua Lembaga Mahasiswa di tingkat fakultas, perwakilan partai dan 7 mantan anggota Badan Pekerja Musywarah Besar Rekonsiliasi (BP MBR).

Membosankan
Alasan ketidakhadiran para "politisi kampus" ini beragam. "Saya yakin ini bukan tanda-tanda keapatisan mereka terhadap lembaga ini," ungkap Dharma, staf Departemen Propaganda Ekti yang mengikuti separo persidangan sebelum akhirnya keluar dari sidang. Para anggota Lekti dan Lembaga Mahasiswa dari beberapa fakultas sendiri lebih memilih melakukan pertemuan untuk membahas kegiatan Inisiasi Kampus (IK) daripada menghadiri sidang.
Ficky, salah satu mantan anggota BP MBR yang juga diundang, memutuskan untuk tidak menghadiri sidang karena sudah bosan dengan perdebatan yang diramalkannya bakal muncul di sidang. "Sejak dulu rapat-rapat di MBR hanya berkutat pada masalah legitimasi," jelas mahasiswa Fakultas Hukum ini. Akhirnya Ficky lebih memilih kuliah. Begitu pula dengan Yuli, mantan anggota BP MBR yang lain. Setelah berusaha mengikuti beberapa saat, dia memutuskan untuk meninggalkan sidang. "Aku sudah muak dengan apa yang dibicarakan di dalam," kata Yuli, sesaat setelah melewati pintu ruang 1 fakultas Geografi.

Sekedar UKM Politik

Menurut Arif Arham, Ketua Badan Pekerja Konggres KM UGM, dia sadar dengan keapatisan para mahasiswa terhadap lembaga mahasiswa semacam KM, Ekti dan Lekti. Kecilnya mahasiswa yang berpartisipasi dalam Pemilihan Raya (Pemira) selama ini, mungkin dapat menjadi indikasi keapatisan mahasiswa. Tapi hal ini bukan suatu masalah bagi lembaga baru yang dibentuk di sidang ini. "Yang diperlukan bukan lembaga yang representatif mahasiswa, namun sekelompok mahasiswa yang dapat berhubungan dengan rektorat," kata mahasiswa fak. Geografi ini.
Untuk selanjutnya lembaga baru ini, memposisi dirinya tak lebih dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). "Jadi kita UKM politik," jelasnya. Seperti UKM lain, yang berkecimpung di UKM ini adalah mahasiswa yang mempunyai minat yang sama yaitu politik kampus. Manfaatnya dirasakan hanya oleh mahasiswa yang aktif bergabung di dalamnya. "Seperti UKM Drum Band (Marching Band-red), yang dapat merasakan manfaatnya hanya para anggotanya," kata Arif memberi contoh.

Agenda Tidak Jelas

Sidang Istimewa ini menghasilkan beberapa ketetapan. Antara lain pembentukan Lembaga Mahasiswa baru bernama Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (KM UGM). Juga ditetapkan perangkat pendukungnya, mekanisme Pemilihan Raya serta Susunan dan Kedudukan Dewan Pengawas yang terdiri dari perwakilan 18 fakultas di UGM.
Namun mekanisme sidang ini tidak jelas. Setelah ditetapkan beberapa keputusan termasuk pembentukan lembaga mahasiswa baru, dan sidang hampir dinyatakan selesai, ada seorang peserta yang menanyakan nasib lembaga lama yang masih exist padahal sudah dibentuk lambaga baru. Para peserta sidang yang lain pun bingung. Akhirnya mereka berketetapan lagi, keputusan yang telah ditetapkan tadi baru sebatas rancangan. Lalu akan dilakukan Sidang Istimewa tahap kedua .
Ketidakjelasan mekanisme sidang juga dirasakan Huda, Pesiden Ekti, yang hanya mengikuti setengah jalannya sidang. Dikiranya dalam Sidang Istimewa ini akan dimintai pertanggung-jawaban sebagai presiden Ekti. Namun ternyata tidak .
(Ukhid-bulaksumur)