log.gif (13574 bytes)
  Indeks  | Daftar Berita | Sapa Kami Pengelola

14/08/00
Pedagang Kaki Lima

Berada di tengah kota, dengan suasana yang cukup rindang, ternyata membuat UGM menjadi salah satu tempat rekreasi di Yogya. Konsekuensinya, banyak pedagang kaki lima di sepanjang jalan di wilayah tersebut. 

Pedagang kaki lima (PKL) di UGM, makin hari jumlahnya makin bertambah dan menjadi sulit dikendalikan. Terutama yang berjualan di sepanjang jalan Pancasila (depan gelanggang mahasiswa) dan di pinggir Lapangan Ghra Sabha Pramana. Apa saja bisa didapatkan di sana. Selain makanan dan minuman (yang didominasi pedagang Kethoprak Jakarta), belakangan muncul pula pedagang pernik-pernik, buku bekas, handuk, kaos sampai ke VCD. Bahkan di sampaing UPT Komputer kini muncul mobil 'kelinci'.
Ini tentu saja menjadi hal dilematis dalam rangka mewujudkan kawasan UGM yang tertib, indah dan nyaman. Sering kali kehadiran pedagang kaki lima tersebut mengganggu kenyamanan para pejalan kaki. Bagaimana pihak UGM, terutama rektorat dan aparat sendiri menanggapi hal tersebut ?

Ijin Berjualan
Menurut Bu Nita (32), pedagang bakso di depan gelanggang ijin berjualan memang dibatasi sampai Gelanggang Mahasiswa. Tetapi pernyataan Bu Nita tersebut dibantah oleh Iriyanto- Komandan Satpam UGM. "Sebenarnya, keberadaan mereka justru tidak diperbolehkan sama sekali," ujar bapak yang baru setahun menjabat komandan ini. Beliau juga menambahkan bahwa sebanarnya juga sudah dipasang papan peringatan dilarang berjualan di kawasan UGM, tetapi papan peringatan itu kini sudah hilang entah kemana.

Saat Prof. Dr. H.Koesnadi Hardjasoemantri, S.H, PKL memang diberi ijin dan 'jatah' lokasi untuk berjualan, di antaranya di sebelah utara gelanggang dan depan lembah. Tetapi lama kelamaan jatah lokasi itu menjadi kosong karena pedagangnya pindah dengan alasan jualannya tidak laku. Sekarang ijin berjualan itu sudah habis berlakunya dan tidak dapat diperpanjang lagi.
Dian, Mahasiswa FISIPOL, menganggap keberadaan para PKL tersebut tidak mengganggu kenyamanan. "Tetapi kalau di depan Grha Saba, harusnya memang dilarang karena rumput di sana jadi rusak dan tidak tumbuh subur. Kan jadi nggak enak dipandang," katanya.

Dilematis dan Repot
Penanganan PKL merupakan suatu hal yang dilematis. "Di satu sisi, UGM merupakan kampus terbuka, dan kondisi ekonomi sekarang memang sulit, sehingga makin banyak orang memanfaatkan peluang dengan berjualan di kawasan UGM," kata Pak Warto, Kasubbag Rumah Tangga UGM. Sedang di sisi yang lain, UGM ingin mewujudkan sebuah kawasan belajar yang tertib, indah dan nyaman. 

Pembantu Rektor (PR) II UGM , Prof. Dr. Mas'oed Machfudz, Msc. Akt , dalam pidato sambutannya pada perayaan HUT Satpam Februari 2000 yang lalu mengatakan bahwa akan dilakukan penyeragaman tenda jualan PKL. Secara implisit, hal ini merupakan "restu" dari pihak UGM untuk pemberian ijin berjualan di kawasan UGM. 

Saat dikonfirmasi Pak Warto membenarkan hal tersebut. Beliau mengatakan bahwa PKL akan dibersihkan, tetapi secara bertahap. Jadi tidak diusir secara langsung. Penanganan PKL akan melalui beberapa tahap. Pertama, penggusuran 'PKL - PKL baru'. Yang disebut PKL baru adalah PKL yang di luar pendataan pada bulan April 2000 dan juga di luar keanggotaan Paguyuban PKL Boulevard / Minggu Pagi. Kemudian, agar terlihat tertib dan rapi, akan dilakukan penataan, termasuk melalui rencana penyeragaman tenda tersebut. Jadi, pedagang akan membeli tenda dari rektorat dengan cara mengangsur seringan mungkin.
"Tetapi kalau PKL tetap membandel, bisa jadi nanti dilegalkan untuk berjualan, asal memenuhi syarat untuk menjaga ketertiban, keindahan, kebersihan, kenyamanan, dan keamanan," kata Pak Warto menambahkan. Kalau dilegalkan , maka harus tahu konsekuensinya seperti membayar retribusi.

Pembangunan Gerbang di Boulevard
Sebenarnya untuk menangani PKL ada rencana pembangunan pintu gerbang di Boulevard. Ini sudah direncanakan sejak 5 tahun yang lalu. Tujuannya, selain untuk kepentingan estetika juga untuk mencegah PKL masuk di kawasan UGM. Rencana itu bahkan sudah disayembarakan. Tetapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Menurut Pak Warto, pemborongnya juga sudah siap. Akan tetapi hal itu terhambat oleh masalah PKL. "Kalau dibangun nanti dikatakan UGM kampus tertutup?" tanyanya retoris.

Sementara itu para pedagang berharap agar mereka dilindungi. " Ya... minta agar kami dilindungi," kata Bu Nita yang memulaai usaha baksonya di kawasan UGM sejak 10 tahun yang lalu. "Kalau digusur, lalu saya mau makan apa?"

(Herry)