log.gif (13574 bytes)
  Indeks  | Daftar Berita | Sapa Kami Pengelola

07/08/00
OSPEK TANPA KEKERASAN ? 
TUNGGU BUKTINYA !


Munculnya Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor 38/DIKTI/Kep/2000 rupanya telah 'mengganti' tradisi penyambutan mahasiswa baru. Bagaimana persiapan panitia penyambutan mahasiswa sejauh ini, baik di tingkat universitas maupun fakultas ? Sejauh mana SK tersebut mengganti gaya dan konsep acara penyambutan ?

Selama ini, kegiatan penyambutan mahasiswa baru (maba), apapun namnya -mulai dari inisiasi, Mapram dan OSPEK- menimbulkan satu imajinaasi yang nyaris sama di semua mahasiswa. Yaitu, sebagai ajang ketika sang senior boleh membentak maba dengan seenaknya dan melihat pemandangan konyol saat maba berlari-lari dengan atribut-atribut anehnya. Siapa yang bisa mengelakkan pandangan umum ini ? 
SK 38/DIKTI/Kep/2000 tentang aturan kegiatan Penyambutan Mahasiswa Baru tersebut, dianggap sebagai era baru kegiatan penyambutan maba, meski SK ini belumlah menjadi jaminan mutlak tidak adanya kekerasan dalam acara ini. Dalam SK tersebut disebutkan bahwa selama ini, banyak sekali kritik, keluhan dan ungkapan ketidakpuasan lainnya yang disampaikan masyarakat mengenai pelaksanaan OSPEK. Untuk itu, pelaksanaan OSPEK perlu menggali konsep-konsep baru yang anti kekerasan dan pemborosan. Tidak boleh ada kegiatan yang dapat membahayakan psikis dan fisik maba, apalagi sampai melanggar hak-hak azasi manusia.
Aturan ini jelas membuat panitia Inisiasi Kampus harus mencari konsep baru yang jauh berbeda dengan konsep sebelumnya. Kerja yang dilakukan pun harus lebih giat pula. 

Tetap Dibutuhkan
Mengapa aacara penyambutan mahasiswa baru tetap dipertahankan ? Amang Toha, ketua panitia Inisiasi Kamus 2000 UGM menyatakan bahwa kegigihan pihak EKTI untuk tetap mengadakan kegiatan penyambutan didasari adanya keinginan yang kuat untuk mengenalkan kampus kepada para mahasiswa baru. "Jadi bukan semata-mata untuk melestarikan tradisi. Kalaupun ada unsur tradisinya, kami merasa tradisi ini masih tetap relevan dan dibutuhkan," tukas mahasiswa jurusan Teknik Sipil angkatan '97 ini. Acara ini akan membantu mahasiswa untuk lebih tahu lingkungan baru yang akan dimasukinya.

Menjawab pertanyaan di atas tadi, para mahasiswa Fakultas ISIPOL bahkan merasa perlu untuk membentuk forum diskusi khusus. Dalam forum yang difasilitatori oleh Majalah SINTESA itu, disepakati bahwa bagaimanapun mahasiswa baru perlu diperkenalkan dengan kultur-kultur FISIPOL yang mungkin khas, sehingga nantinya mereka tidak merasa gagap berada di kampus sendiri. Hanafi, salah seorang peserta forum menyatakan, "Apalagi dalam proses menjalani kehidupan di FISIPOL nantinya, mereka tidak akan 'jalan' sendiri-sendiri. Interaksi antar mahasiswa dan antar elemen kampus bisa diawali dalam ajang pengenalan kampus ini."

Belum Banyak Persiapan 
Berbeda dengan panitia Inisiasi Kampus Universitas yang telah mempunyai konsep-konsep acara, di berbagai Fakultas persiapan acara penyambutan ini tampaknya masih adem ayem. Meskipun waktu yang tersisa tinggal satu bulan, persiapan penyambutan mahasiswa baru di Fakultas-fakultas tersebut masih belum sempurna. Rata-rata, para penggagas acara di tingkatan Fakultas masih dalam tahap rekruitmen panitia. Di Fakultas ISIPOL, misalnya, baru akan melakukan publikasi rekruitmen panitia pada hari Senin (7/8). Selasa, barulah pendaftaran para calon panitia bisa dilayani. Begitu pula Fakultas Hukum. Masih dibuka lowongan bagi mahasiswa yang ingin menjadi panitia penyambutan mahasiswa baru.

Fakultas yang hampir sempurna persiapannya adalah fakultas Sastra dan fakultas Biologi. Menurut salah satu panitia dari fakultas Biologi, " Dari semua panitia tinggal O.C yang belum sempurna, namun targetnya tanggal 10 Agustus 2000 sudah fix", kata Rury mahasiswa Biologi '99. Lebih lanjut staff sekretaris BPM Biologi ini mengatakan bahwa mengenai jumlah pendaftar dalam rekrutmen panitia sudah mendekati cukup. Tinggal mempersiapkan hal-hal yang sifatnya teknis seperti perlengkapan, penyempurnaan acara dan juga peningkatan konsolidasi panitia.

Konsep Baru
Disinggung mengenai konsep yang akan dipakai dalam Inisiasi Kampus 2000, Awang Toha mengatakan bahwa panitia akan mencoba menghilangkan kesan egaliter dengan cara menghilangkan hal-hal yang dianggap perploncoan dan pembodohan. Pihaknya akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengedepankan asas rasionalitas. Hal lain yang akan ditonjolkan adalah religiusitas. Jadi dalam pelaksanaan IK nanti mahasiswa baru akan diajak untuk lebih mendekatkan diri pada Penciptanya. Yang terakhir adalah asas keilmuan. "Tapi secara detil, kami belum mengkonsep cara yang efektif, " jelasnya lagi. Untuk acaranya, panitia telah merancang empat bentuk kegiatan utama, yaitu stadium general, diskusi, tour Gadjah Mada dan Malam Inagurasi. Lebih lanjut, mengenai persiapan I.K 2000 sudah ada sekitar 1.000 pendaftar untuk dijadikan pemandu dan panitia.

Di Fakultas Biologi, acara penyambutan mahasiswa baru diberi tajuk "Kenal Kampus". Sama halnya dengan Panitia Tingkat Universitas, di Fakultas Biologi kegiatan yang mengarah ke perploncoan juga ditiadakan. Begitupula di Fakultas ISIPOL. "Acara penyambutan mahasiswa baru ini seharusnya menjadi sesuatu yang humanis. Kita harus mengenalkan pada mahasiswa baru sisi-sisi humanis dari pendidikan. Mulai dari nilai egalitarian, demokratisasi sampai pada ekologi," kata Nino, aktivis Majalah SINTESA FISIPOL dalam suatu forum persiapan penyambutan mahasiswa baru. 
Tampaknya, acara-acara semacam stadium general dan diskusi-diskusi kelompok akan menjadi acara yang cukup dominan dalam penyambutan mahasiswa baru di lingkungan UGM nanti. Tentang kemungkinan kebosanan peserta atas acara yang monoton, bagi beberapa panitia, itu akan sangat tergantung pada 'kemasannya'. Meskipun diskusi kalau tema dan suasana menyenangkan, tentu peserta tidak akan bosan. Yah, semoga saja !

(Zakky, Sylvi)