log.gif (13574 bytes)
  Indeks  | Daftar Berita | Sapa Kami Pengelola

07/08/00
Jalan Masih Terlalu Panjang untuk Keluar Dari Krisis

Krisis moneter yang melanda indonesia sejak 3 tahun yang lalu memang belum bisa teratasi dengan baik sampai sekarang, bahkan cenderung mengalami penurunan situasi. Kondisi ini diperburuk dengan morat-maritnya tatanan kehidupan politik di indonesia. Mulai dari ketidakberesan kinerja kabinet Persatuan Nasional sampai leadership performance kurang baik yang ditampilkan Gus Dur dalam beberapa bulan terakhir, yang makin membuat nilai tukar rupiah tak beranjak naik.

Hal ini terungkap pada acara Seminar dan Peluncuran Buku "Agenda Ekonomi-Politik: Keluar Dari Krisis" yang diselenggarakan oleh Pusat Antar Universitas (PAU) Studi Ekonomi UGM, bekerja sama dengan PT Gramedia Pustaka Utama di Hotel Quality, Yogyakarta pada hari Kamis, tanggal 3 Agustus 2000 yang baru lalu.

Hadir sebagai pembicara dalam acara itu adalah penulis buku "Keluar Dari Krisis" Bapak A. Tony Prasetiantono, Pakar Politik UGM Cornelis Lay dan Laksamana Sukardi yang dipandu oleh ketua PAU Studi Ekonomi UGM Drs M.Masykur Wiratmo, M.Sc.

Lebih lanjut Tony Prasentiantono sendiri mengindikasikan bahwa sebenarnya perekonomian indonesia mengalami pertumbuhan positif (positive economic growth) di berbagai sektor pada kuartal ke dua tahun 2000. Angka inflasi relatif semakin rendah, bahkan cadangan devisa menunjukkan angka kenaikan yang menggembirakan meskipun sekitar 40 persen diantaranya adalah dana pinjaman dari International Monetary Fund (IMF).

Tetapi lebih lanjut Pak Tony mengungkapkan bahwa variabel-variabel tersebut tidak cukup unrtuk bisa mengatakan bahwa fundamental ekonomi kita membaik. Masih ada beberapa variabel yang justru sangat penting dan komprehensif, seperti nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing khususnya dollar, kondisi riil sektor perbankan di indonesia, investasi di sektor riil dan utang luar negeri yang dimiliki indonesia.

Ironisnya menurut pria yang murah senyum ini, variabel inilah yang justru menunjukkan gejala kemerosotan yang cukup drastis, seperti nilai tukar rupiah yang terus terpuruk, atau sulitnya menjaga keberlanjutan (sustainability) nilai ekspor dan impor, atau kondisi bank-bank di Indonesia yang sebagian sedang "mati suri", yang masih diperburuk dengan rekapitalisasi perbankan yang terlambat dilakukan oleh pemerintah. 

Sementara itu menurut Laksamana Sukardi, kemerosotan ekonomi terjadi karena dua hal pokok yaitu tidak ada transparansi di dalam perilaku politik maupun pengambilan kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil dan public policy yang tercampur antara Social Oriented dan Comercial Oriented. Hal ini lebih banyak terjadi pada BUMN dan BPPN di Indonesia. Apalagi dengan buruknya kinerja kalngan elit politik dalam menyikapi perubahan ekonomi yang terjadi.

Masih menurut pria yang dipecat Gus Dur ini, perubahan ekonomi yang diharapkan akan sangat mungkin terjadi jika ada Good Coorporate Government yang berjalan dengan kejujuran, saling percaya antar elemen politik dan tidak saling menjatuhkan. "Saat ini pemerintahan Gus Dur tidak mencerminkan Good Government, karena semua elemen seperti berjalan sendiri-sendiri, tanpa koordinasi", sambung pria yang lebih sering dipanggil Pak Laks ini.

Pada kesempatan itu Pak Laks juga mengungkapkan bahwa selain Good Government, syarat mutlak yang diperlukan untuk memecahkan masalah ini adalah hadirnya pranata hukum yang benar-benar qualified yang ironisnya menurut Pak Laks itu tidak ada di Indonesia. Hal senada juga diungkapkan Pak Tony, bahwa hukum di Indonesia masih kurang bagus karena mengenal rasa sungkan dan malu-malu. "Di Korea, mantan presiden yang sangat dicintai rakyatnya, begitu ketahuan korupsi, langsung di borgol dan diseret seperti pesakitan. Coba yang seperti itu ada di sini ya...", tuturnya.

Pada acara yang dihadiri sekitar 100 orang peserta ini, Pak Tony juga menyampaikan keprihatinannya tentang kondisi perbankan di Indonesia, karena menurutnya bank di Indonesia ini masih terlalu banyak untuk kondisi perekonomian yang sekarang ini."162 Bank adalah jumlah yang tak masuk akal, idealnya adalah di bawah 100 untuk kondisi keuangan seperti saat ini", kata dosen fakultas ekonomi ini. Tetapi menurutnya bank-bank yang tergolong besar di indonesia masih takut untuk merger dengan berbagai alasan, walaupun sebenarnya cara itu terbukti ampuh di negara-negara lain."Di Jepang, bank nomer satu merger dengan bank nomer tiga dan empat, dan itu terbukti berhasil", tambahnya.

Sementara itu, pakar politik UGM, Cornelis Lay, mengemukakan pendapatnya bahwa memang kehidupan politik adalah salah satu sumber dari krisis di Indonesia, dan itu disebabkan salah satunya adalah karena para elit dan kekuatan politik yang mempunyai hasrat yang sama besar untuk berbuat cheating demi tercukupinya kepentingan sendiri untuk membangun kekuatan politik."Akbar meninjau ke lokasi bencana gempa bumi di bengkulu hanya untuk menunjukkan bahwa ia lebih cepat dari Gus Dur dan Mega, Amien juga begitu", kata pria yang lebih akrab dipanggil Cony ini. 
Lebih lanjut menurutnya, di sektor ekonomi, BUMN dan BPPN sekarang ini justru menjadi ajang paling digemari oleh para elit politik untuk ramai-ramai merampok uang negara."Dan itu tidak diurusi secara serius oleh alat-alat hukum kita", imbuhnya.

Ketika ditanya tentang solusi yang tepat untuk mengatasi kondisi politik yang seperti ini, Cony menawarkan tiga solusi yaitu yang pertama adalah pewajaran peristiwa dan relasi politik, tanpa ada maksud-maksud tersembunyi, dan kejujuran tindakan. yang kedua adalah pembangunan rasa percaya diri para elit politik untuk bersama-sama berjuang dan yang ketiga adalah upaya penghindaran penggunaaan kekerasan untuk menghadapi segala permasalahan masyarakat."Saya termasuk salah seorang yang tidak pesimistis bahwa indonesia bisa mewujudkan hal ini", tambah lelaki yang suka memakai celana jeans ini dengan berapi-api.

Tetapi secara keseluruhan ketiga pembicara sepakat bahwa jalan menuju pulihnya kondisi ekonomi indonesia dan selesainya krisis masih sangat jauh, walaupun sudah terlihat. Hanya saja itu akan sangat tergantung dengan pemerintahan macam apa yang akan terbentuk setelah sidang umum nanti."Kalau bisa sih pemerintahan yang ada Pak Laks dan Mas Cony ya", canda Pak Tony mengakhiri seminar yang disambut tepuk tangan peserta. 
Tetapi itu kan....................ah sudahlah !

(Gunawan)