EDISI MAHASISWA BARU 2001

Dicari : Tempat Sampah

Tong sampah termasuk barang langka di UGM. Kelangkaannya menyulitkan mahasiswa yang ingin membuang sampah pada tempatnya. Mereka harus mengantongi sampah tersebut, sampai menemukan tong sampah untuk membuangnya. Namun tak jarang kelangkaannya jadi alasan untuk membuang sampah sembarangan.

Cobalah anda jalan-jalan berkeliling kampus. Hampir di semua jalan, mulai dari yang besar-seperti Boulevard, timur GSP, sekitar lembah, barat Fakultas Biologi-sampai jalan antar fakultas, bakalan tak ditemukan satu pun tempat sampah. Juga di tempat-tempat publik kampus lainnya seperti perpustakaan, masjid, gelanggang, bisa dikatakan sama sekali tak ada tempat sampah. Sedang di Gedung Pusat dan GSP terdapat beberapa tempat mematikan puntung rokok yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat membuang sampah. Tahun 1987, UGM pernah menyediakan bak sampah. Berbentuk kotak permanen yang terbuat dari semen dan tersebar di setiap sudut jalan kampus. Di kompleks perumahan dosen, satu bak sampah digunakan oleh tiga sampai empat rumah. Namun fasilitas itu dianggap tidak praktis karena sampah baru diangkut bila bak sampah telah penuh. Bila hujan tiba, pengangkutan sampah menjadi lebih sulit karena sampah telah busuk dan berbau tak sedap. Kini, bak sampah permanen berganti anyaman bambu seadanya yang tersebar di pojok kampus. Kondisi Fakultas Keberadaan tempat sampah di fakultas tergantung pada kebijakan masing-masing fakultas. Fakultas Hukum misalnya, tak ada satupun tempat sampah yang dapat dimanfaatkan. Hasilnya, ada beberapa tempat yang-seperti menjadi kesepakatan-dijadikan tempat membuang sampah. Di gedung FMIPA selatan, tempat sampah tersedia hampir di tiap ruang kelas. Sementara itu di FISIPOL, meskipun tidak ada fasilitas dari fakultas, terdapat tong sampah dari bekas tempat cat yang dibuat oleh mahasiswa. Disapu Tiap Hari Sebagai wilayah yang dihuni 48 ribu manusia, setiap hari UGM memproduksi sekitar 20 meter kubik sampah organik, non organik dan sampah rumah tangga. Sampah organik berasal dari dedaunan kering, potongan rumput dan pepohonan. Non-Organik berupa kertas dan plastik dari perkantoran. Sedangkan sampah rumah tangga berasal dari perumahan dosen dan kantin. Untunglah walaupun tak mempunyai tempat sampah, UGM mengusahakan tenaga yang mengurusi kebersihan lingkungan kampus. Tiap pagi akan ditemui Satuan Kebersihan yang menyapu ruas-ruas jalan. Tepat pukul 7 truk dan kijang mulai berkeliling untuk mengangkut sampah. Truk bertugas mengangkut sampah organik dan kijang untuk sampah rumah tangga. Sampah ini diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) di Ngablak, Piyungan. Sampah yang diangkut tiap hari memang membuat UGM lumayan bersih dari sampah daun-daun kering. Tapi sampah lain yang berupa kertas, plastik maupun gelas minuman masih tercecer di sepanjang jalan kampus. Sampah jenis ini tak tentu kapan munculnya, sehingga perlu tong sampah di setiap pojok kampus. Tempat sampah seharusnya menjadi fasilitas standar yang harus ada pada setiap public domain. Apalagi kampus yang harusnya mengajarkan warganya budaya hidup bersih. Andari